“aku berdoa agar aku selalu bisa memaafkan…
aku pasti akan gagal.
tapi aku berdoa semoga kau takkan pernah menyerah menghadapiku,
meskipun aku akan terus gagal.
lebih dari apapun, aku berdoa bahwa aku selalu pantas
mendampingimu.
salam sayang,
Malcolm.”
ini surat yg saya temukan malam ini di balik sebuah buku warna
merah. sebuah perangko airmail bercap Woodstock menempel
di sampulnya. dan heiii, ini salah satu
‘the new york times bestseller’ haha..
you guys, yg biasanya nyambangin toko buku dan
menyempatkan lirik2 bentar ke rak novel (-atau malah nyolong2 baca?hehe), pasti pernah liat buku unik berjudul The Wednesday Letters .
terus terang, saya sempat ngiler juga krn harganya lumayan mahal,
dan sampai detik ini saya belum berhasil memilikinya. cool!
adapun yg saya baca barusan dlm 2 jam lebih ini
(wow! 332 halaman dlm 2 jam. saya sendiri heran. maksudnya, saya memang pembaca buku yg lumayan cepat, tapi ini rekor baru..)
adalah milik orang lain,
yg ternyata adalah milik yg lain juga.
intinya, ini adalah hasil peminjaman kuadrat.
tp itu kan nggak masalah..:D
Jason F. Wright dalam buku ini mengisahkan 3 orang kakak beradik
(Matthew, Malcolm, dan Samanta)
yg tiba2 di suatu malam yg dingin,
masing2 ribuan kilometer dari rumah mereka di Woodstock,
mendengar kabar bahwa kedua orangtua tersayang
telah meninggal dgn damai : hampir secara bersamaan.
sang ibu krn sakit jantungnya, diikuti oleh suaminya yg mengidap kanker otak.
di ranjang kamar utama rumah itu, mereka ditemukan sedang berpelukan
tampak seperti sedang tidur dgn senyum penuh damai
satu2nya benda paling menghibur adl kumpulan entah
ribuan surat di sebuah kotak.
ketika dibuka, ternyata surat2 itu berasal dari Jack Cooper, sang ayah,
untuk Laurel, istrinya.
isinya : mulai dari yg pribadi sampai yg sangat ringan.
di salah satu surat, terungkap fakta bahwa Malcolm
adalah hasil perkosaan, yg sama sekali tak diduga oleh
Jack hingga Malcolm berusia setahun.
fakta ini menghancurkan Matt, Sam, terutama Malcolm secara psikologis.
apalagi setelah mengetahui bahwa pelakunya adalah seorang pastor,
yg dulunya mantan bandit,
yg juga datang hari itu di pemakaman Jack dan Laurel..
tapi cara Jack dan Laurel menyelesaikan problem itu di masa lalu
: yaitu memaafkan… memberi insight pada ketiga Cooper
untuk melakukan hal yg sama kepada sang pastor.
ini adalah bagian yg sangat jawara di buku ini.
inilah kutipan surat pertama Jack untuk Laurel
(ketika mereka baru saja menikah) :
Teruntuk Ny. Cooper,
percayakah kau bahwa akhirnya kita menikah juga?
kita sudah menikah!
betapa indahnya hari ini.
aku sudah berjanji hari ini di gereja dan aku akan berjanji lagi padamu malam ini.
mulai sekarang, aku akan menulis surat padamu setiap minggu.
terima kasih karena menungguku. terimakasih karena telah membuatku menunggu.
aku berjanji akan selalu mendampingimu. tak peduli apa pun yg terjadi. kita akan selalu bersama. tanpa rahasia. tanpa kejutan.
dan aku akan selalu setia kepadamu
dalam segala hal..”
a). bbrp dari surat2 itu manis sekali…bbrp lucu, dan mengharukan. aneh juga sih. di salah satu rabu, Jack sedang duduk menulis suratnya sambil memandangi Laurel menonton tv…dan..Anda tahu.. jarak mereka hanya bbrp meter. ya ampunnnn…sooo…
b) Jack, menepati janjinya menemani Laurel hingga akhir. bahkan juga ketika badai melanda keluarga itu. Jack tetap bertahan dan tetap menulis surat-hari-rabunya. meski isinya hanya bbrp hal yg sangat standar. hmm..
c) surat2 itu berbicara secara implisit dan eksplisit ttg teladan. Jack dan Laurel meninggalkan teladan yg sangat tepat untuk Mat, Sam, dan Malcolm, anak2 mereka. yaitu teladan untuk memaknai cinta sejati – cinta yg sampai akhir; cinta yg tak berhenti di tengah jalan; cinta yg ‘hingga maut memisahkan kita’..
kira2 Anda sudah berpikir untuk melakukan sesuatu sekarang?
hoaaaeemmmm, lah kok ngantuk bgt yahh…?? ZzzzZZZzzzzzZZZ



