ketika Tuhan diam

inilah alasan mengapa kadang-kadang aku tampak sangat ‘pesimis’ :

Matius 26:36-46

begini ceritanya,

malam itu, Ia bersama murid-murid-Nya sampai ke suatu tempat bernama Getsemani. lalu, mulailah Ia merasa sedih dan gentar. “hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku,” katanya kepada tiga murid yang bersama dia.

Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa.
antara lain, ia meminta agar, jika mungkin, cawan (salib yang akan dipikulnya) lalu dari pada-Nya. lalu Ia menambahkan, tapi jangan seperti yang Ia kehendaki, melainkan seperti yang Bapa kehendaki.

setelah itu ia kembali dan mendapati ketiga murid-Nya sedang tidur (bayangkan bagaimana situasi saat itu, dan bagaimana perasaan-Nya)

Ia berdoa lagi, kali ini agak berbeda. jika cawan itu tidak mungkin lalu, kecuali apabila Ia meminumnya, maka jadilah kehendak Bapa.

selanjutnya, Ia berdoa untuk ketiga kalinya, dan ia mengucapkan doa yang itu juga.

sesudah itu ia membangunkan murid-murid-Nya dan berkata : saatnya sudah tiba.

hal itu terjadi dalam waktu satu malam.

fakta :
1) Ia sangat sedih, seperti mau mati rasanya
2) Ia berdoa tiga kali kepada Bapa
3) doa pertama berisi negosiasi dan penyerahan
4) doa kedua dan ketiga adalah penyerahan
5) setelah berdoa tiga kali, tanpa jawaban (yang tercatat di alkitab), Ia memutuskan untuk menerima apa yang harus terjadi.

pertanyaan dan renungan
1) berapa kali kita berdoa – setiap hari ?
2) ketika mengalami kesulitan, apakah kita lebih banyak bernegosiasi atau menyerah pada-Nya? (negosiasi boleh dilakukan, Ia juga melakukannya, kan?)
3) jika tidak ada respons atas penyerahan itu, apakah kita akan tetap menyerah pada-Nya? (seolah-olah kita melakukan hal bodoh, betul?)
4) apakah kita akan memutuskan sekarang, atau tunggu tahun depan?

kesimpulan : kadang-kadang, Tuhan diam. bahkan saat kita seperti mau mati rasanya. tidak ada tanda, peneguhan, isyarat, atau suara dari langit. kita tahu akan terjadi hal yang tidak menyenangkan. mungkin kita tidak hendak mengelak, hanya ingin Ia bersimpati pada keadaan kita dan memberi dukungan yang terasa oleh indra manusia kita. tapi, Tuhan diam. itulah saat-saat gelap yang membingungkan. keputusan kita (untuk terus berjalan atau berpaling) akan menunjukkan kualitas ketaatan kita kepada-Nya.

boleh dicoba kalo nggak percaya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.