kita pasti pernah membaca kisah Abraham yang diminta Tuhan untuk mempersembahkan Ishak, anak satu-satunya, sebagai korban bakaran. memang sulit untuk memahami jalan pikiran Tuhan pada awalnya. mengapa sih Tuhan memberi kemudian mengambil kembali sesuatu sebelum janji itu digenapi ? (janji Tuhan :Kejadian 17:4-8)
tetapi tidak terlalu lama kita diombang-ambingkan pemikiran negatif. pada ayat ke-11, sebuah suara dari langit memanggil nama Abraham..
“Abraham, Abraham,” seru suara itu.
“Ya Tuhan,” jawab Abraham.
“Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”
ooopss, bagaimana perasaan kita mendengar perkataan ini? seperti disiram air sejuk dari kendi tanah liat. ademmm benerrr.. ya nggak?
ah ternyata, Tuhan hanya ingin mengetahui seberapa besar iman Abraham. DIA ngga bener-bener ingin meminta Ishak dikorbankan.
artinya apa? artinya, jika kita telah mengetahui pola ini, maka akan sangat mudah untuk menerima setiap ketakutan dan kekhawatiran dan berkata, “Tuhan hanya ingin melihat imanku. pada akhirnya, DIA akan menyediakan seekor domba jantan, yang tanduknya tersangkut dalam belukar, dan menyuruhku untuk menyimpan apa yang menjadi kesayanganku. Dia tidak benar-benar mau mengambilnya, aku ngga perlu takut.”
Baiklah, itu bisa diterima, tapi jangan lupa, ada sebuah kisah lagi di dalam Alkitab, yang tak kurang mencengangkannya dibanding kisah Abraham. masih ingat Ayub? Pasti ingat. begini Alkitab mendeskripsikan seorang Ayub : ia saleh dan jujur, ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
tetapi deskripsi itu bukan jaminan bahwa ia akan bebas dari segala kepedihan yang terjadi di dunia ini. Tuhan tetap memintanya untuk menunjukkan ke-mumpuni-annya, dengan cara yang sangat istimewa dan tak terpikirkan. kesepuluh anaknya, puluhan ribu ternaknya, dan dirinya sendiri. bahkan istrinya pun membuatnya merasa salah telah memiliki Tuhan setega itu.
kondisi Ayub baru dipulihkan pada pasal ke 42. hal itu menjadi sebuah gambaran bahwa kepedihan yang dirasakan oleh Ayub, terjadi dalam jangka yang cukup panjang. ia harus menunggu demikian lama hingga akhirnya Tuhan memulihkan seluruh apa yang hilang darinya. pada akhirnya, Tuhan memberkati Ayub lebih daripada sebelumnya. Ia meninggal dalam keadaan yang baik ketika ia sudah tua dan lanjut umurnya.
perhatikan kedua kisah ini. persamaannya : Tuhan selalu merancangkan akhir yang baik bagi setiap orang. masalahnya adalah Anda harus sabar dan menunggu. cara Tuhan menunjukkan diri-Nya tidak selalu sama seperti kepada Abraham, ataupun Ayub.
yang lebih penting lagi, saat kita mengetahui pola yang terjadi pada iman Abraham, artinya pola yang terjadi pada iman Ayub juga bisa terjadi pada kita. Tuhan bisa jadi hanya meminta kita untuk tidak takut kehilangan kesayangan kita, tapi Tuhan juga bisa benar-benar mengambil apa yang menjadi kesayangan kita.
saat segala sesuatu benar-benar hilang, jangan kecil hati dan menuduh Tuhan tidak menyiapkan seekor domba jantan di semak belukar. DIA justru sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari seekor domba jantan. DIA ingin memberkati kita lebih banyak dari sebelumnya. seperti Ayub.
Tuhan baik apapun yang terjadi


Posted by mel on 3 Maret 2011 at 10:58 pm
Oy oy oy ada apakah gerangan
hope all is well!
Posted by Muria Tri Seno on 7 Mei 2011 at 6:42 am
Abraham, man of faith. taat sepenuhnya pada Tuhannya dan tidak pernah mempertanyakan apapun perkataan Tuhan even hurting.